Soroti Bahaya Radikalisme Media Sosial bagi Remaja Densus 88 dan DP3A Malut Edukasi Siswa di Ternate

Berita, Daerah, Ternate3 Dilihat

TERNATE – Tim Pencegahan Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Talk Show bertema “Edukasi Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Maluku Utara”. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran perlindungan generasi muda ini berlangsung di SMA Muhammadiyah Kota Ternate, Kamis (16/04/2026).

​Tasmin, selaku moderator, menyampaikan bahwa acara ini menghadirkan kolaborasi narasumber dari unsur pemerintah, aparat keamanan, dan dunia pendidikan. Tujuannya adalah memberikan pemahaman menyeluruh terkait ancaman kekerasan, bahaya radikalisme, hingga perundungan (bullying) di lingkungan remaja.

​Hadir sebagai pemateri utama antara lain Kanit Cegah dan Idensos Sgw Malut Densus 88 AT Polri, IPTU Herry Rinsampessy, S.H.; Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Maluku Utara, Dra. Hairiah, M.Si.; serta Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Kota Ternate, Rosdiana Lahiri.

​Dalam paparannya, Dra. Hairia menekankan bahwa kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian bersama. Ia menyebutkan kekerasan bisa terjadi dalam bentuk fisik, verbal, psikis, hingga penelantaran.

​”Lingkungan keluarga adalah benteng pertama dalam memberikan perlindungan. Orang tua harus aktif mengawasi tumbuh kembang anak dan memahami perubahan perilaku mereka. Selain itu, anak perlu diberikan ruang aman untuk melapor jika mengalami tindakan tidak menyenangkan,” ujar Hairia.

​Sementara itu, IPTU Herry Rinsampessy menyoroti fenomena kelompok radikal yang kini mulai menyasar anak-anak melalui media sosial. Menurutnya, remaja adalah kelompok rentan karena sedang berada dalam masa pencarian jati diri.

​”Media sosial sering disalahgunakan untuk menyebarkan propaganda dan ujaran kebencian. Orang tua dan guru perlu meningkatkan literasi digital untuk membimbing anak menggunakan internet secara sehat,” tegas IPTU Herry. Ia juga memaparkan beberapa contoh kasus terorisme di Indonesia yang melibatkan anak muda sebagai peringatan dini bagi peserta didik.

​Di sisi lain, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Kota Ternate, Rosdiana Lahiri, fokus memberikan imbauan terkait bahaya bullying. Ia menegaskan bahwa dampak perundungan sangat merusak mental dan prestasi siswa.

​”Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Saya meminta siswa saling menghormati, menghargai perbedaan, dan tidak ragu melapor kepada guru jika melihat atau mengalami tindakan bullying,” pesan Rosdiana.

​Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara sekolah, orang tua, dan aparat keamanan dalam mencetak generasi muda Maluku Utara yang berakhlak baik, toleran, dan terhindar dari segala bentuk kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *